Showing posts with label Filsafat pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Filsafat pendidikan. Show all posts

Thursday, December 29, 2016

Filsafat Manusia dan Filsafat Agama



Pengertian Filsafat Manusia
Filsafat manusia, yang dalam bahasa Inggris disebut philosophy of man, merupakan bagian dari filsafat yang berupaya menelisik eksistensi seorang manusia. Filsafat  manusia berupaya melukiskan siapa sebenarnya makhluk yang kita sebut sebagai manusia itu secara total. Penjelasan tentang filsafat manusia akan mencoba menyibak misteri dari seorang manusia dakam keseluruhan dimensinya. Hakikat kemanusiaannya, motif-motif yang melandasi setiap aktivitasnya, nilai, tujuan, dan makna hidupnya, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan eksistensinya sepanjang napas kehidupannya, karena eksistensi yang bernama manusia sangat kompleks yang mencakup dimensi spiritual, emosional, intelektual, moral, sekaligus fisikal, maka filsafat manusia bergumul dengan semua dimensi tersebut dalam totalitas kehidupan manusia, baik dalam pengalaman personalnya maupun pengalaman sosialnya.
            Dalam  perspektif  Zainal Abidin, bentuk atau jenis gejala apa pun tentang manusia, sejauh bisa dipikirkan, dan memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional, bisa menjadi kajian filsafat manusia. Aspek-aspek, dimensi-dimensi, atau nilai-nilai yang bersifat metafisis, spiritual, dan  universal dari manusia yang tidak bisa diobservasi dan diukur melalui metode-metode keilmuan, bisa menjadi bahan kajian terpenting bagi filsafat manusia. Aspek-aspek, dimensi-dimensi, atau nilai-nilai tersebut merupakan sesuatu yang hendak dipikirkan, dipahami, dan diungkap maknanya oleh filsafat manusia.
Dalam konteks ini, sebagai bagian dari sistem filsafat, secara metodis filsafat manusia mempunyai kedudukan yang  kurang lebih setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, kosmologi, epistemologi, filsafat sosial dan estetika. Tetapi secara ontologis, ia mempunyai kedudukan yang relatif lebih penting karena semua cabang filsafat tersebut pada prinsipnya bermuara pada persoalan asasi mengenai esensi manusia, yang tidak lain merupakan persoalan yang secara spesifik menjadi objek kajian filsafat manusia.Kini semakin banyak bermunculan  ilmu yang menggarap manusia dalam sudut pandang khusus. Asal usulnya corak bentuknya, tindakan-tindakannya adalah misalnya biologi, embriologi, psikologi, sosiologi, antropologi, etnologi, dan  sebagainya. Dikatakan oleh para filusuf  hingga kini tentang manusia tidaklah menimbulkan keraguan-keraguan, meraka telah  menyajikan berbagai konsepsi tentang manusia yang  tampaknya saling bertentangan. Bagi Plato dan  Platinus, manusia itu adalah suatu  makhluk  ilahi, bagi Epikuros dan  Lukretius, sebaliknya. Manusia adalah makhluk yang berumur  pendek  lahir  karena  kebetulan, dan akhirnya sama sekali lenyap dan masih banyak pendapat-pandapat yang lain yang juga bertentangan.
      Memang berat bahwa ilmu pengetahuan, seni dan  sastra  mengajarkan banyak kepada  kita  mengenai aspek manusia yang berbeda-beda, dan berbagai tahap dalam  pertumbuhan serta evolusinya. Akan  tetapi, pada suatu ketika juga penting bertanya pada diri sendiri. Apakah manusia itu? Apakah  keseluruhannya itu yang begitu banyak aspeknya? Seperti yang dikatakan Victor E. Frankl, seorang psikiater dari Australia “Tantangan adalah bagimana mencapai, mempertahankan dan  membangun  kembali suatu konsep yang menyatukan tentang manusia, di hadapan data-data dari penemuan-penemuan terpencar-pencar yang di sajikan kepada kita oleh suatu ilmu manusia yang begitu digolong-golongkan (a compartmentalized science of man)”.
Adanya watak sifat ini memungkinkan membedakan  manusia secara pasti dari  makhluk-makhluk  lain. Tanpa adanya watak sifat yang dimiliki bersama oleh semua  manusia, filsafat dan setiap ilmu pengetahuan tentang manusia tidak akan terjalan. Para ahli antropologi mengajari kita bahwa apa yang orang Eropa dan Amerika di anggap tanpa ragu-ragu sebagai ciri khas kelakuan  manusia tidak lah dianggap demikian oleh orang Afrika atau Asia. Bahkan dari orang-orang dari kebudayaan yang sama tidak selalu mudah untuk menyesuaikan pendapat tentang apa yang normal apa yang tidak, tentang  yang bermoral dan yang tidak. Misalnya, tentang cara berdandan dan terutama tentang hidup seksual. Itu tidak berarti bahwa tidak ada watak sifat manusia, melainkan bahwa hal itu adalah kompleks.
a.              yang membedakan filsafat manusia dari ilmu-ilmu lain tentang manusia
Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia, sedikit mirip dengan ilmu tentang alam, berbudaya untuk menemukan  hukum, perbuatan manusia, sejauh perbuatan itu dapat dipelajari secara indrawi/bisa dijadikan objek untuk  introspeksi. Adapun filsafat  menyerahkan  penyelesaiannya terhadap segi yang lebih mendalam dari manusia, karena lebih fundamental dan lebih ontologis, maka sudutnya lebih luas dan lebih mempersatukan, lebih global. Vokabulet yang khas baginya adalah mengenai gagasan-gagasan universal dan terutama transcendental, yang menggambarkansifat-sifat yang mepengaruhi segala realitas : kebenaran, kebaikan, keindahan, aktivis, alteritas, dll.
Mereka terus-menerus menggunakan gambar-gambar dan lambang-lambang. Meraka menciptakan karya-karya, tokoh-tokoh yang masing-masing mempunyai semacam kehidupan sendiri . karya-karya dari tokoh itu banyak memperkaya pengetahuan kita tentang manusia universal.
Akan tetapi itu selalu terjadi melalui drama perorangan dan pribadi, peristiwa-peristiwa khusus seperti antiguna, Hamlet, Lorenzacio), sedangkan filsafat berupaya menarik secara langsung ketentuan-ketentuan universal yang ajek dari watak sifat manusia.

b.             Titik tolak dan objek tepat filsafat manusia
Walaupun filsafat selalu tergantung pada konteks kebudayaan dimana ia berkembang, namun ia tetap merupakan sesuatu yang sama sekali berlainan dengan jumlah atau perpaduan segala pengetahuan dari suatu zaman. Itu disebabkan karena kesimpulan-kesimpulan tersebut tidak menjawab secara langsung pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh filsafat dari sudut pandang yangkhas baginya jadi tidak dituntut bawa filsafat mempergunakan kesimpulan-kesimpulan itu sebagai titik tolak yang wajib bagi pemikirannya. Maka seharusnya lebih baik bertolak dari pengetahuan tentang manusia serta dunia yang secara wajar ada pada setiap individu, begitu pula filsafat manusia memiliki manusia itu sendiri sebagai objek inaterial, tetapi objek formalnya berbeda dengan objek formal ilmu-ilmu lain tentang manusia. Objek formal filsafat itu adalah inti manusia, setrukturnya yang fundamental. Apa artinya ? Pertama struktur fundamental itu bukan sesuatu yang bersifat fisik, yang dapat digambarkan, ia hanya dapat diketahui melalui usaha daya pikir saja. Ia bukan bagian atau potongan dari si manusia, juga bukan alat yang kiranya tersembunyi di dalam organisme, seperti motor, mobil didalam kerangkanya. Keyakinan bahwa struktur otak bentuk fundamental semacam ini harus terdapat didalam manusia bukan hasil dari suatu persepsi inderawi, melainkan kesimpulan dari suatu penangkapan intelektual setelah ditentukan perspektif serta titik pandang yang merupakan ciri khas filusuf. Maka sebagai penutup introduksi ini di jelaskan secara singkat metode filsafat.

Metode dan Katakteristik Filsafat Manusia
            Dalam  perspektif  Zainal Abidin, filsafat  manusia menggunakan metode sintesis dan reflektif, serta mempunyai karakteristik ekstensif, intensif, dan kritis. Penggunaan metode sintesis dalam filsafat manusia, yang menyintesiskan pengalaman dan pengetahuan ke dalam satu visi, tampak misalnya dari sistem-sistembesar filsafat Bergon tentang ”daya penggerak hidup (elan vital)”; filsafat Schopenhauer tentang “kehendak”; filsafat  Hegel tentang “roh”; filsafat Casiser tentang “Animal Simbolicum”; filsafat materialis tentang hakikat “materi” dan sebagainya. Dengan metode sintesis maka tercapailah visi menyeluruh dan rasional tentang (hakikat) manusia.
            Penggunaan metode refleksi dalam filsafat manusia tampak dari pemikiran-pemikiran filsafat besar seperti yang dikembangkan, misalnya oleh Descartes, Kant, Edmund Husserl, Karl Jasper, dan Jean Paul Sartre. Refleksi, demikian ditulis oleh filsuf Paul Ricoeur, merupakan metode yang tidak bisa dipisahkan dari filsafat, termasuk filsafat  manusia. Refleksi yang dimaksudkan disini menunjuk pada dua hal: pertama, pertanyaan tentang esensi sesuatu hal (misalnya : apakah esensi keindahan itu; apakah esensi kebenaran itu), dan kedua, proses  pemahaman diri (self-understanding) berdasarkan  pada totalitas gejala dan kejadian manusia yang sedang direnungkannya.


            Dalam filsafat manusia, bukan hanya das Sein (kenyataan sebagaimana adanya) yang dipertimbangkan, tetapi juga das Sollen (kenyataan yang seharusnya). Ini berarti bahwa nilai yang selain dipandang subjektif tetapi juga ideal, mewarnai kegiatan filsafat manusia. Nilai-nilai, apakah itu personal, sosia, moral, religius, ataupun kemanusiaan, bukan barang haram atau terlarang di dalam filsafat manusia. Itulah sebabnya kita tidak perlu heran kalur Karl Marx menganjurkan kepada para filsuf bahwa tugas mereka sekarang bukan lagi menerangkan duinia (das Sein), tetapi mengubah dunia (das Sollen). Kita pun tidak perlu heran kalau  Nietzsche mengajak kita untuk mendobrak kebudayaan yang lembek, mapan, bodoh, dan cepat puas diri (yang menurut penelitiannya berasal dari “moral budak”) dan menggantinya dengan kebudayaan yang adikuasa, megah, kompetitif, perkasa, hebat, dan berani ”moral tuan”.

Das Man: Manusia Inautentik
            Menurut Heidegger, kondisi manusia selalu terentang antara dua eksistensi: autentik dan inautentik. Modus eksistensi autentik adalah kesadaran bahwa akulah yang harus menentukan pilihanku sendiri sementara modus eksistensi  inautentik adalah hilangnya kesadaran akan aku yang autentik. Satu kata yang merangkum semua aktivitas keseharian hubungan manusia dengan dunia seisinya adalah Sorge (care atau concern) yang berarti kekhawatiran, perhatian, kepedulian, maupun pemeliharaan.
            Sorge mencakup tiga komponen  yaitu terlempar di dunia (faktisitas), larut dalam  keseharian (kejatuhan), dan mengantisipasi masa depan (eksistensialitas atau pemahaman). Di anatara tiga elemen Sorge tersebut, manusia menjadi manusia inautentik apabila ia larut dalam rutintas keseharian. Dengan istilah das Man, Heidegger hendak menunjukkan keterjatuhan (Verfalensein) bahwa manusia pada  awalnya berada dalam  kondisi “lari” dari dirinya sendiri dan terperangkap dalam eksistensi yang anonim dan tidak autentik.



Dasein: Manusia Autentik
Sebagaimana telah diungkapkan bahwa pengertian Dasein adalah keberadaan  manusia yang terlempar di dalam dunia, begitu saja tanpa tahu dari mana dan mau ke mana. Heidegger menyebut fakta ini dengan faktisitas (Faktizitat),  yakni kenyataan bahwa kita ada di dunia ini bersifat niscaya. Kita tidak pernah ditanya lebih dahulu mau atau tidak hidup di dunia ini, juga kita diberitahu ke mana harus bergerak di dunia ini. kita ada begitu saja, kitaa “di sana”, di dalam dunia.
            Orang saleh (beragama) akan protes dengan pendapat ini, karena agama jelas memberitahu bahwa manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Tetapi bagi Heidegger, kesadaran religius ini harus ditangguhkan dulu. Sebab, faktanya kesadaran religius ini justru membius kebanyakan orang beragama dengan tidak pernah lagi mempertanyakan eksistensinya dalam kehidupan ini. selanjutnya menciptakan makna atau eksistensialitas. Keberadaan manusia di dunia tidak hanya nyata tapi sekaligus juga abstrak. Melalui segala subjektivitas yang manusia miliki, menurut Heidgger, ia benar-benar terlibat, terikat, berkomitmen dan juga menjadi intim dengan dunia banalitas tindak tanduknya sudah berada dalam cakrawala kemengadaan (horizon of being).
            Dalam kata-kata Heidegger: “The interpretation of something as something is essentially grounded in fore-having, fore-sight, and fore-conception. Interpretation is never a presuppositionless grasping of something previously given”. Dengan demikian, pemahaman atau pemaknaan tidak pernah bertolak dari tabalu rasa, tetapi senantiasa terjadi atas dasar suatu pra-pemahaman lebih dulu. Di sini manusia tak pernah bisa melepaskan diri dari selaput ruang-waktu yang menyelubunginya. Setiap manusia membawa arus sejarahnya masing-masing. Walaupun demikian, untuk mencapai otentisitas diri, manusia harus mengorientasikan diri masa depan dan manusia lebih ditentukan oleh rencana masa depan ketimbang masa lalunya.



Pengertian Agama
Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskrit “a” yang berarti tidak dan “gam” yang berarti pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun dalam kehidupan manusia. Ternyata agama memang mempunyai sifat seperti itu. Agama, selain bagi orang-orang tertentu, selalu menjadi pola hidup manusia.
Agama ialah suatu sistem credo (tata keyakinan), ritus (peribadatan) dan sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan alam lainnya sesuai tata ketentuan yang telah ditetapkan.
Menurut sumbernya agama dibagi menjadi 2 yaitu:
1.      Agama samawi (agama wahyu atau langit)
2.      Agama budaya (agama bumi)
Contoh dari agama samawi salah satunya adalah islam. Agama islam adalah wahyu dari Allah yang diturunkan pada rosul-Nya sebagai suatu sistem keyakinan dan tata aturan yang mengatur segala pri kehidupan dan kehidupan manusia dalam hubungan nya dengan Tuhan, sesama makhluk maupun alam yang bertujuan mencari keridhoan Allah serta keselamatan dunia dan akhirat.
Agama islam bersumber dari kitab suci yaitu kodifikasi wahyu Allah swt untuk umat manusia di atas planet bumi berupa Al quran sebagai penyempurna wahyu-wahyu Allah sebelumnya.
Dick Hartoko menyebut agama itu dengan religi, yaitu ilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan “Yang Kudus” dan hubungan itu direalisasikan dalam ibadat-ibadat. Kata religi berasal dari bahasa latin rele-gere yang berarti mengumpulkan, membaca. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan semua cara itu terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Dari sisi lain kata religi berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaran agama memang mempunyai sifat mengikat bagi manusia. Seorang yang beragama tetap terikat dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama.
Religi juga merupakan kecenderungan asli rohani manusia yang berhubungan dengan alam semseta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir hakikat dari semua itu. Religi mencari makna dan nilai yang berbeda-beda sama sekali dari segala sesuatu yang dikenal. Karena itulah religi tidak berhubungan dengan yang kudus. yang kudus itu belum tentu Tuhan atau dewa-dewa. Dengan demikian banyak sekali kepercayaan yang biasanya disebut religi, pada hal sebenarnya belum pantas disebut religi karena hubungan antara manusia dan yang kudus itu belum jelas. Religi-religi yang Bersahaja dan Budhisma dalam bentuk awalnya misalnya menganggap yang kudus itu bukan Tuhan atau dewa-dewa. Dalam religi betapa pun bentuk dan sifatnya selalu ada penghayatan yang berhubungan dengan yang Kudus.
Jadi religi adalah hubungan antara manusia dengan yang Kudus. Dalam hal ini yang kudus itu terdiri atas berbagai kemungkinan, yaitu bisa berbentuk benda, tenaga, dan bisa pula berbentuk pribadi manusia.     

Hubungan Filsafat Manusia dengan Agama
Menurut Hocking (1946), agama merupakan obat dari kesulitan dan kekhawatiran yang dihadapi manusia, sekurang-kurangnya meringankan manusia dari kesulitan. Agama merupakan pernyataan pengharapan manusia dalam dunia yang besar atau jagat raya, karena ada jalan hidup yang benar yang perlu ditemukan. Agama menjadi suatu lembaga yang bersemangat untuk memperoleh kehidupan yang baik dan merenungkannya sebagai suatu tuntutan kosmis. Manusia menjadi penganutnya yang setia terhadap agama karena manurus keyakinannya agama telah memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi hidupnya yang tidak mungkin dapat diuji dengan pengalaman maupun oleh akal seperti halnya menguji kebenaran sains dan filsafat karena agama lebih banyak menyangkut perasaan dan keyakinan.
Agama merupakan sesuatu yang ada, karena keberadaanya itulah makanya agama dikatakan pengkajian filsafat. Landasan agama atau tauhid merupakan landasan utama yang perlu diperhatikan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk keselamatan di dunia dan menjadi bekal di akhirat nanti. Pandangan filsafat menurut agama islam tertung semuanga pada Al-qur’an yang dijadikan sebagai pegangan dan pedoman hidup bagi orang-orang yang beriman. Karena dia yakin bahwa semuanya, baik hidup, mati, kapan, dan dimanapun ia berada adalah kekuasaan dan kehendak yang maha kuasa yaitu Allah SWT.
Filsafat merupakan pertolongan yang sangat penting pula pengaruhnya terhadap seluruh sikap dan pandangan orang, karena filsafat justru hendak memberikan dasar-dasar yang terdalam mengenai hakikat manusia dan dunia. Ada beberapa hal yang penting dalam agama yaitu : menyakini adanya Tuhan yang menciptakan semua yang ada dilangit dan dibumi dan mengatur semua kehidupan manusia, adanya kebajikan, sifat buruk dan baik dan lain sebagainya, juga diselidi oleh filsafat karena itu merupakan atau mungkin ada secara umum kebenaran dalam agama didasarkan pada wahyu atau firman-firman Allah, sedangkan kebenaran dalam filsafat didasarkan pada pikiran belaka, agama telah menegaskan bahwa agama itu untuk orang-orang yang berakal dan berilmu pengetahuan. Maksudnya adalah dalam agama terutama gama islam adanya aturan-aturan yang ditetapkan Allah, dimana aturan Allah adalah wajib, sunat, haram, makruh dan mubah. Jadi agama dan manusia merupakan dua yang saling berhubungan dan saling berkaitan, maksudnya adalah didalam agama ada aturan-aturan yang harus dipatuhi, sedangkan dalam manusia  juga ada aturan yang harus dipatuhi dan semua aturan baik manusia maupun agama dijalankan dan diterapkan dengan baik dan dijalankan sesuai kaidah.
Dimana dapat dikatakan hubungan filsafat dengan agama diantaranya : setiap manusia diharapkan merenung dalam hikmah untuk proses dan usaha-usaha  suatu bangsa guna mempersiapkan generasi muda dan warga negara agar beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan menjadi warga negara sadar dan insaf tentang hidup serta mempunyai tauladan yang dapat dijadikan perinsip dan keyakinan.



DAFTAR PUSTAKA
Filsafat umum seb4ah -ende2atan te0at52 aqh14

Thursday, December 15, 2016

Pemikiran Plato



Sebagian besar orang mengatakan bahwa filsafat itu sangat susah dan sulit, namun demikian orang-orang tersebut tidak menyadari bahwa keseharian mereka di isi dengan filsafat, atau bisa dikatakan mereka telah berfilsafat dalam kehidupannya. Pemikiran seperti ini didasari, karena pemahaman mereka tentang filsafat masih sangat sedikit dan bahkan belum tau tentang filsafat itu apa.
Orang-orang terdahulu hingga sekarang, yang mencintai filsafat atau para filosof mengartikan filsafat yaitu mencintai kebijaksanaan, sehingga ketika berfilsafat berarti mereka telah mencintai kebijaksanaan, namun bukan berarti merasa dirinya sudah benar. Cinta kebijaksaan berarti akan selalu mencari bagaimana mendapatkan kebijaksaan itu, karena hal yang kita cintai tentulah ada usaha untuk mendapatkan hal tersebut.
Sejarah tentang filsafat ini membawa kita untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang pemikiran-pemikiran para filosof terdahulu. Dengan hasrat ingin mengetahui pemikiran tersebut, membawa kita untuk lebih dalam lagi mengkaji tentang pemikiran filosof-filosof itu.
Perlunya mengkaji pemikiran tersebut adalah sebagai sarana untuk merangsang pikiran kita untuk bisa lebih berkembang lagi, dan lebih luas lagi. Pemikiran Plato sangat menarik untuk di bahas, karena sebagaimana kita ketahui bahwa Plato dikenal sebagai bapak Filsafat.

1.      Sejarah tentang Plato
Plato dilahirkan sekitar tahun 428/427 SM di Athena. Dan meninggal di sana pada tahun 347 SM. Dalam usia 80 tahun. dia berasal dari keluarga bangsawan. Salon (abad ke-6 SM), sang pemberi hukum bagi Athena, adalah salah satu kakek dari sisi ibunya. Sementara dari pihak ayahnya, ia masih keturunan raja terkakhir Athena. Plato memiliki dua saudara (Adimantes dan Glaukon) serta satu saudari (Potone). Saat Plato lahir, Athena merupakan sebuah Kota yang paling berkuasa di Yunani dengan sistem demokrasi. Kekuatan militer dan maritimnya nomor satu, kultur intelektual dan artistiknya jauh mengatasi polis-polis lain di Yunani. Dia masih mudah ketika Athena kalah perang, dan dia menunjuk sistem demokrasi lah penyebab kekalahan itu.
Pelajaran yang diperolehnya dimasa kecilnya. Selain dari pelajaran umum, ialah menggambar dan melukis, belajar musik dan puisi. Ketika beranjak dewasa ia sudah pandai membuat karangan yang bersajak.
Pada masa anak-anaknya plato mendapat pendidikan dari guru-guru filosofi. pelajaran filosofi mula-mula diperolehnya dari Kratylos. Kratylos dahulunya adalah murid Herakleitos. Sejak berumur 20 tahun Plato mengikuti pelajaran Socrates. Pelajaran itulah yang memberi kepuasaan baginya. Pengaruh Socrates makin hari makin mendalam padanya. Ia menjadi murid socrates yang setia. Sampai pada akhir hidupnya socrates tetap menjadi pujaanya.
Plato mempunyai kedudukan yang istimewa sebagai seorang filosof. Ia pandai menyatukan puisi dan ilmu, seni dan filosofi. Pandangan yang dalam dan abstrak sekali pun dapat dilukiskannya dengan gaya bahasa yang indah. Tidak ada seorang filosof  sebelumnya yang dapat menandinginya dalam hal ini. Ketika socrates meninggal, ia sangat sedih dan menamakan dirinya seorang anak yang kehilangan bapak.  Tak lama sesudah socrates meninggal, Plato pergi dari Athena. Itulah permulaan ia mengembara dua belas tahun lamanya, dari tahun 399 SM-387 SM. Mula-mula ia pergi ke Megara, tempat Euklides mengajarkan filosofinya. Di ceritakan bahwa di Megara ia mengarang beberapa dialog, yang mengenai berbagai macam pengertian dalam masalah hidup, berdasarkan ajaran socrates.
Di Megara ia pergi ke Kyrena, di mana ia memperdalam pengetahuannya tentang matematik pada seorang guru yang bernama Theodoros. Di sana juga ia mengajarkan filosofi dan mengarang buku-buku. Plato juga sempat di penjara dan dijual sebagai budak. Tetapi nasib yang baik bagi Plato, di pasar budak ia dikenal oleh seorang bekas muridnya, Annikeris dan ditebusnya. Kemudian peristiwa itu diketahui oleh sahabat-sahabat dan pengikut-pengikut Plato di Athena. Mereka bersama-sama mengumpulkan uang untuk mengganti harga penebus yang dibayar oleh Annikeris. Tetapi dia menolak penggantian itu dengan berkata “Bukan tuan-tuan saja yang mempunyai hak untuk memelihara Plato”. Akhirnya uang yang terkumpul itu dipergunakan untuk membeli sebidang tanah yang kemudian diserahkan kepada Plato untuk dijadikan lingkungan sekolah tempat ia mengajarkan filosofinya. Tempat itu diberi nama “Akademia”. Di situlah Plato, sejak berumur 40 tahun, pada tahun 387 SM. Sampai meninggalnya dalam usia 80 tahun, mengajarkan filosofinya dan mengarang tulisan-tulisan yang tersohor sepanjang masa.

2.      Karya-karya Plato
Sepanjang sejarah, karya-karya Plato diedit dan disalin ulang. Meski tanpa mesin cetak, para penulis dengan tekun menyalin ulang teks-teks Platon. Dan berkat tradisi salinan tangan Bizantium kita dapat merasakan karya-karya Plato sampai saat ini. Berikut ini adalah karya-karya Platon yang oleh para ahli dianggap otentik:
a.       Masa Muda (399-390 SM)
Karya-karyanya antara lain: Gorgias, Menon, Euthydemos, Lysis, menexenos, Kratylos.
Karya ini dibuat saat Akademia sudah berdiri. Disini masih ada pengaruh pemikiran sokratik, tetapi ide-ide Plato mulai keluar seperti pengetahuan lewat anamnesis dan pentingnya pengetahuan matematis.
b.      Dewasa ( 385-370 SM)
Phaidon, Symposion, Politeria, Phaidros, Republic. Phaidon membahas konsep jiwa dan kekekalannya, Symposion membahas eros, politeria beridealisasi tentang pembaharuan polis dan prinsip-prinsip kebaikan politik, sementara Phaidros berupa kritik atas retorika yang dihubungkan dengan teori tentang jiwa.
c.       Masa Tua (370-348 SM)
Theaitetos, Parmenides, Sophistes, Politikos,Timaios, Kritias, Philebos, Nomoi, Surat VII. Theaitetos memberikan definisi pengetahuan serta mengkritik konsepsi pengetahuan dari Herakleitos dan Protagoras, Sophistes dan Parmenides membahas ontologi dan epistimologi khas Platonisian dalam debatnya dengan Eleatisme, Philebos bebicara tentang hidup yang baik, Timaios adalah fisikanya platon, dan Nomoi memberikan sistem Politik paling komplit yang pernah dibuat oleh seorang filsuf.
Ajaran Plato yakni teori tentang ide-ide, teori ini sebagian bersifat logis, sebagian lagi metafisis. Bagian logisnya berkaitan dengan makna kata-kata umum. Plato memberikan penjelasan yang jelas mengenai doktrin ide. Plato menjelaskan bahwa, jika ada sejumlah individu memiliki nama yang sama, mereka tentunya juga memiliki satu “ide” atau “forma” bersama. Sebagai contoh, meskipun terdapat banyak ranjang, sebetulnya hanya ada satu “ide”b atau “forma” ranjang.
Di sepanjang filsafat Plato terjadi perpaduan anatar intelek dan mistisisme sebagaimana terdapat dalam phytagoreasnisme, namun pada puncaknya jelas bahwa mistisisime lebih diutamakan.
Doktrin plato tentang ide-ide mengandung sekian masalah yang cukup jelas, namun dibalik doktrin itu pun menyumbangkan kemajuan penting dalam filsafat. Sebab ini teori pertama yang menekankan masalah tentang universal.

3.      Gagasan Plato
A.    Ajaran tentang ide
Salah satu pemikiran Plato yang sangat fenomenal yakni ajaran tentang ide-ide. Ajaran tentang ide-ide ini merupakan inti dasar seluruh filsafat Plato. Namun, arti ide yang dimaksud oleh Plato berbeda dengan pengertian orang-orang moderen sekarang, yang hanya mengartikan bahwa kata ide adalah suatu gagasan atau tanggapan yang hanya terdapat dalam pemikiran saja. Sehingga orang-orang akan menganggap bahwa ide merupakan suaatu yang bersifat subjektif belaka. Plato mengartikan kata ide itu merupakan suatu yang objektif. Menurut Plato ada ide-ide yang terlepas dari subjek yang berpikir. Beliau mengatakan bahwa semua yang ada di entitas ini semuanya ada di alam ide tersebut,  yakni alam tersebut di analogikan seperti cetakan kue dan kue-kuenya itu adalah entitas-entitas ini.
Menurut Plato ide-ide tidak bergantung pada pemikiran, sebaliknya pemikiran bergantung pada ide-ide. Justru karena ada ide-ide yang berdiri sendiri. Pemikiran kita dimungkinkan. Pemikiran itu tidak lain dari pada menaruh perhatian kepada ide-ide itu.
1.      Adanya ide-ide
Munculnya pemikiran Plato tentang ide-ide adalah terinspirasi dari gurunya yakni socrates. Dimana socrates dikisahkan bahwa beliau berusaha mencari defenisi-defenisi, ia tidak puas dengan menyebut satu persatu perbuatan-perbuatan yang adil atau tindakan-tindakan yang berani. Ia ingin menyatakan apa keadilan atau keberanian itu sendiri, atau bisa dikatakan bahwa socrates mencoba mencari hakikat atau esensi keadilan dan keutamaan-keutamaan lain tersebut. Karena pemikiran gurunya ini lah Plato kemudian meneruskan usaha gurunya tersebut lebih jauh lagi. Menurut dia esensi itu mempunyai realitas, terlepas dari segala perbuatan kongkret. Ide keadilan, ide keberanian dan ide-ide lain itu ada.
Ada pun  asal usul yang lain tentang ajaran Plato tentang ide-ide ialah berkaitan dengan ilmu pasti.  Sebagaimana kita ketahui bahwa ilmu pasti sangat di utamakan dalam akademi Plato dan di bidang ini Plato terpengaruh oleh kaum Pythagorean. Menurut Plato ilmu pasti yang berbicara tentang segitiga, namun segitiga yang dimaksud itu bukan segitiga yang kongkret, melainkan segitiga yang ideal, maka Plato menarik kesimpulan bahwa segitiga itu memiliki realitas juga, biar pun tidak dapat ditangkap oleh indra. Tidak mungkin bahwa ilmu pasti membahas sesuatu yang tidak ada! Jadi, mesti terdapat suatu ide ”segitiga”. Segitiga yang digambarkan pada papan tulis hanya merupakan tiruan tak sempurna saja dari ide “segitiga”.
Namun contoh lain yang sama dengan konsep pada segitiga tersebut, seperti ” kata bagus”, begitu banyak yang boleh dikatakan bagus : kain bagus, patung bagus, rumah bagus, dan lain sebagainya. Sehelai kain tidak disebut bagus karena itu kain, sebab terdapat juga kain yang jelek. Yang menyebabkan kain itu disebut bagus ialah ide tentang bagus itu. Selain kain tersebut masih banyak yang bisa dikatakan bagus, karena ide tentang bagus merupakan bagus itu sendiri secara sempurna, tidak tercampur dengan yang lain. Plato menyebut ini dengan kata-kata yunani yaitu idea serta eidos dan juga kata morphe yang berarti bentuk.
2.      Dua dunia
Menurut Plato realitas itu terbagi menjadi dua atau dunia menjadi dua yakni:
a.       Dunia indrawi
Realitas yang pertama ini yakni adalah yang mencakup benda-benda jasmani yang disajikan kepada panca indra, atau bisa dikatakan relaitas yang pertama yang dimaksud Plato adalah sesuatu yang dapat dijangkau oleh indra seperti bunga, pohon dan lain-lain. Pada taraf ini harus diakui bahwa semuanya tetap berada dalam perubahan. Bunga yang kini bagus keesokan harinya sudah layu, lagi pula dunia indrawi ditandai oleh pluralitas. Sehingga bunga tadi, masih ada banyak hal yang bagus juga.
b.      Dunia ide
Disamping ada dunia indrawi yang senantiasa berubah, menurut Plato ada juga sebuah dunia yang tidak pernah berubah yakni disebut dunia ideal atau dunia yang terdiri atas ide. Dalam dunia ideal tidak sama sekali yang pernah berubah. Semua ide bersifat abadi dan tak terubahkan. Dalam dunia ideal tidak ada banyak hal yang bagus karena hanya terdapat satu ide “ yang bagus”. Demikian pula dengan ide-ide yang lain yang bersifat abadi dan sempurna.
Namun, ketika Plato mengatakan bahwa dunia itu ada yakni dunia indrawi dan dunia ideal, kemudian apa keterkaitan antara kedua dengan dunia ini tersebut? Ide-ide sama sekali tidak di pengaruhi oleh benda-benda jasmani. Lingkaran yang digambarkan pada papan tulis lalu di hapus lagi, sama sekali tidak mempengaruhi ide “lingkaran”. Tetapi Ide-ide mendasari dan menyebabkan benda-benda jasmani.
Hubungan antara ide-ide dan realitas jasmani bersifat seperti yang ada di atas, sehingga benda-benda jasmani tidak bisa tanpa pendasaran oleh Ide-ide itu. Plato mengungkapkan hubungan itu dengan tiga cara:
a.      Pertama-tama ia mengatakan bahwa Ide itu hadir dalam benda-benda konkret. Tetapi dengan  ide itu sendiri tidak dikurangi sedikit pun juga.
b.      Dengan cara lain, ia mengatakan bahwa benda kongkret mengambil bagian ide. Dengan demikian Plato mengintroduksikan “partisipasi” (metexis) ke dalam filsafat. Tiap-tiap benda jasmani berpartisipasi pada satu atau beberapa ide. Kalau kita mengambil sebagai contoh: satu bunga bagus, maka bunga itu mengambil bagian dalam ide “bunga”, ”bagus” dan “satu”. Tetapi, partisipasi itu tidak mengurangi ide bersangkutan.
c.       Plato mengatakan juga bahwa ide merupakan model atau contoh (paradigma) bagi benda-benda konkrit. Benda-benda konkrit itu merupakan gambaran tak sempurna yang menyerupai model tersebut.
Menurut Plato seperti yang di atas bahwa hubungan antara kedua dunia itu adalah demikian seperti yang diatas, yakni bahwa ide-ide dari dunia ide itu hadir dalam benda yang kongkrit, contohnya ide manusia berada pada tiap manusia dan sebagainya, dan sebaliknya benda-benda itu berpartisipasi dengan idea-ideanya, artinya mengambil bagian ide-ideanya, bukan hanya dalam satu idea saja, melainkan dapat juga lebih (umpamanya: bunga bagus, berpartisipasi dengan idea bunga dan idea bagus). Dengan demikian idea-idea itu berfungsi sebagai model atau contoh benda-benda yang kita amati di dalam dunia ini.
Menurut Plato di dalam dunia ide tiada kejamakan, yakni berarti bahwa “ yang baik” hanya lah satu saja, dan seterusnya, sehingga tiada bermacam-macam “ yang baik”. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa dunia ide ini hanya terdapat satu ide saja. Ada banyak ide. Oleh karena itu, dilihat dari segi lain harus juga di katakan bahwa ada kejamakan, ada bermacam-macam ide seperi ide manusia, binatang, dan lain-lainnya. Idea yang dihubung-hubungkan dengan idea yang lain contohnya ide bunga yang dikaitkan dengan ide bagus, idea api dihubungkan dengan ide panas, dan sebagainya. Hubungan antara kedua ini disebut koinonia (persekutuan). Di dalam dunia ide itu juga ada hirarki, contohnya ide anjing termasuk ide binatang menyusui, termasuk ide binatang, termasuk ide makhluk, dan seterusnya. Segala ide itu jikalau disusun secara hirarkis memiliki ide “yang baik” sebagai puncaknya yang menyinari segala ide. Plato sangat menganjurkan untuk tidak menganggap dunia sebagai jahat. Dunia justru harus di atur oleh manusia.
B.     Ajaran tentang Jiwa
Plato menganggap jiwa sebagai pusat atau inti sari keperibadian manusia. Dalam anggapannya tentang jiwa, Plato tidak saja dipengaruhi oleh socrates, tetapi juga oleh orfisme dan madzhab Pythagorean. Dengn mempergunkan semua unsur itu, plato menciptakan suatu ajaran tentang jiwa yang berhubungan erat dengan pendiriannya mengenai ide-ide.
1.      Kebakaan jiwa
Plato meyakini dengan teguh bahwa jiwa manusia bersifat baka. Keyakinan ini bersangkut paut dengan ajarannya tentang ide-ide. Dalam dialog-dialognya plato sering kali merumuskan argumen-argumen yang mendukung pendapat-pendapatnya tentang kebakaan jiwa. Salah satu argumennya adalah kesamaan  yang terdapat antara jiwa dan ide-ide.
Dalam dialog Phaidros terdapat argumen lain yang bermaksud membuktikn kebakaan jiwa. Disini Plato menganggap jiwa sebagai prinsip yang menggerakkan dirinya sendiri dan oleh karenya juga dapat menggerakan badan. Plato tidak menjelaskan secara detail mengenai kebakaan jiwa. Dia hanya memberikan mitos yang melukiskan nasib jiwa sesudah kematian badan.
2.      Mengenal sama dengan mengingat
Bagi Plato jiwa itu bukan saja bersifat baka, dalam artian bahwa jiwa tidak akan mati pada saat kematian badan, melainkan juga kekal, karena sudah ada sebelum hidup di bumi ini. Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami suatu Pra eksistensi, dimana ia memandang ide-ide. Plato berpendapat bahwa pada ketika itu tidak semua jiwa melihat hal yang sama, berdasarkan pendiriannya mengenai Pra Eksistensi jiwa, Plato merancang suatu teori tentang pengenalan. Bagi Plato pengenalan pada pokoknya tidak lain dari pada pengingatan akan  ide-ide yang telah dilihat pada waktu Pra Eksistensi itu.
3.      Bagian-bagian jiwa
Jiwa terdiri dari 3 “bagian”. Kata “bagian” ini harus dipahami sebagai “fungsi”, sebab Plato sama sekali tidak memaksudkan bahwa jiwa mempunyai keluasan yang dapat dibagi-bagi. Pendirian Plato tentang tiga fungsi jiwa tentu merupakan kemajuan besar dalam pandangan filsafat tentang manusia. Bagian pertama ialah bagian rasional ( to logistikon ). Bagian kedua ialah “bagian keberanian” (to thymoaeides). Dan bagian ketiga ialah “bagian keinginan” (to epithymetikon). “ bagian keberanian “ dapat dibandingkan dengan kehendak, sedangkan “ bagian keinginan” menunjukkan hawa nafsu.
Plato menghubungkan ketiga bagian jiwa masing-masing dengan salah satu keutamaan tertentu. Bagian keinginan mempunyai pengendalian diri ( sophorosyne ) sebagai keutamaan khusus. Untuk “ bagian keberanian” keutamaan yang spesifik (andreia). Dan “bagian rasional” dikaitkan dengan keutamaan kebijaksanaan (phronesis atau sophia).
Dikatakan bahwa karena hukum lah sehingga jiwa di penjarakan dalam tubuh. Secara mitologisnya kejadian ini diuraikan dengan pengibaratan jiwa adalah laksana sebuah kereta yang bersais (fungsi rasional), yang di tarik oleh dua kuda bersayap, yaitu kuda kebenaran, yang lari keatas, ke dunia ide, dan kuda keinginan atau nafsu, yang lari ke bawah, ke dunia gejala. Dalam tarik-menarik itu akhirnya nafsu lah yang menang, sehingga kereta itu jatuh ke dunia gejala dan dipenjarakanlah jiwa.
Agar supaya jiwa dapat dilepaskan dari penjaranya, orang harus mendapatkan pengetahuan, yang menjadikan orang dapat melihat ide-ide, melihat ke atas. Jiwa yang di dalam ini berusaha mendapatkan pengetahuan itu kelak setelah orang mati, jiwa akan menikmati kebahagiaan melihat ide-ide, seperti yang telah dia alami sebelum dipenjarakan di dalam tubuh. Menurut Plato bahwa ada praeksistensi jiwa dan jiwa tidak dapat mati. Hidup di dunia bersifat sementara  saja, sekali pun demikian manusia begitu terpikat kepada dunia gejala yang dapat diamati, sehingga sukar baginya untuk naik ke dunia ide. Hanya orang yang benar-benar mau mengerahkan segala tenaganyalah yang akan berhasil. Dalam kenyataan hanya sedikit orang yang berhasil, karena masyarakat di sekitarnya tidak dapat mengerti perbuatan orang bijak yang mencari kebenaran dan berusaha keras untuk menahan orang bijak di dunia gejala ini.
Dengan kenyataan masyarakat yang seperti itu maka Plato menguraikannya dalam sebuah mite, yaitu mite gua. Manusia dilukiskan sebagi orang-orang tawanan yang berderet di belenggu di tengah-tengah sebuah gua, dengan muka yang dihadapkan ke dinding gua, membelakangi lobang gua. Di belakang tawanan itu ada api unggun. Di antara api unggun dan para tawanan itu ada banyak budak yang lalu lalang kesana kemari sambil memikul beban yang berat. Bayangan mereka tampak pada dinding yang dilihat para tawanan tadi. Oleh karena para tawanan hidupnya hanya melihat bayangan yang ada pada dinding gua itu saja, maka mengira bahwa itu lah kenyataan hidup. Ketika seorang di lepaskan dari belenggunya dan diperkenankan melihat ke belakang, bahkan di luar gua, ia tahu, bahwa yang selam ini dilihat hanyalah bayangan di luar gua, bukan kenyataan hidup, dan bahwa kenyataan hidup jauh lebih indah daripada bayangan itu. Ia kembali menceritakan hal itu kepada teman-temannya para tawanan, akan tetapi mereka tidak mau mendengarkannya, bahkan orang itu di bunuhnya.

C.    Ajaran tentang Negara
Dikatakan dalam buku-buku yang menjelaskan tentang Plato, sebagian besar membahas tentang pemikiran-pemikiran Plato dibandingkan  sejarah beliau. Disamping Plato menjelaskan tentang ajaran-ajaran tentang ide dan jiwa, namun Plato juga mengeluarkan pemikiran yang berkaitan dengan ketata negaraan. Plato membahas tentang sebuah negara yang ideal yakni disebutkan bahwa puncak pemikiran Plato adalah pemikiran tentang negara, yang  tertera dalam bukunya polites dan nomoi. Pemikirannya tentang negara ini adalah untuk upaya memperbaiki keadaan negara yang telah rusak dan buruk.
Di athena pada waktu itu memiliki suatu sistem negara yang buruk menurut Plato, sehingga mendorong beliau untuk membuat suatu konsep yang bisa memperbaiki konsep negara yang buruk itu. Konsepnya tentang negara yang dikeluarkan oleh Plato yakni konsep negara yang di dalamnya terkait etika dan teorinya tentang negara yang ideal. Konsep etika yang dikemukakan oleh Plato seperti halnya konsep etika yang dikeluarkan socrates gurunya sendiri, yakni tujuan hidup manusia adalah hidup yang baik (eudamonia atau well-being). Akan tetapi untuk hidup yang baik tidak mungkin dilakukan tanpa di dalam negara. Alasannya, karena manusia mempunyai kodrat yakni makhluk yang sosial dan di dalam polis (negara).  Sehingga untuk mendapatkan hidup yang baik harus di dalam negara yang baik. Dan sebaliknya, negara yang jelek atau buruk tidak mungkin menjadikan para warganya hidup dengan baik.
Menurut Plato, untuk membangun sebuah negara yang ideal diperlukan sebuah konsep tentang negara yang baik. Menurutnya, negara yang ideal harus terdapat tiga golongan yang menjadi bagian terpenting dalam sebuah negara yakni:
1.      Golongan yang tertinggi, terdiri dari orang-orang yang memerintah yakni seorang filosof.
2.      Golongan pelengkap atau menengah yakni yang terdiri dari para prajurit, yang bertugas untuk menjaga keamanan negaradan menjaga ketaatan para warganya.
3.      Golongan terendah atau golongan rakyat biasa, yakni yang terdiri para petani, pedagang, tukang, yang bertugas untuk memikul ekonomi negara.
Plato menganalogikan sebuah negara yang dibangun dengan cara persis dengan tubuh manusia yang terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, dada dan perut, sedangkan negara mempunyai pemimpin, pembantu atau pelengkap, dan pekerja. Sebagaimana manusia yang hidup sehat dan selaras mempertahankan keseimbangan dan kesederhaan, begitu pun pada negara yang baik, yang ditandai dengan adanya kesadaran setiap orang akan tempat mereka masing-masing.
Menurut Plato terciptanya negara yang baik tergantung pada siapa yang memerintah, jika akal yang memerintah sebagaimana kepala mengatur tubuh, maka filosoflah yang harus mengatur masyarakat, sehingga dia mengatakan bahwa negara yang baik tidak akan pernah ada apabila filosof belum menjadi pemimpin di negara tersebut.
Sebuah negara haruslah memiliki bentuk pemrintahan yang sesuai dengan keadaan yang nyata. Apabila sebuah negara telah mempunyai undang-undang dasar, maka bentuk pemerintahan yang tepat adalah monarki. Yang terburuk adalah bentuk pemerintahan demokrasi. Sedangkan apabila suatu negara yang belum mempunyai undang-undang dasar, maka bentuk pemerintahan yang paling tepat adalah demokrasi, dan yang paling buruk adalah monarki, konsep tentang negara ini tertera dalam politeia (tata negara).


Daftar Pustaka:
K. Bertens “sejarah filsafat Yunani”, Yogyakarta: KANISIUS,1999
Hendrik jan papar. Pengantar Filsafat, Yoyakarta: KANISIUS, 1996
Gaarder Jostein. Dunia sophie, Bandung: PT Mizan purtaka, 2012
Lavine. Petualangan filsafat dari socrates ke Sartre.Yogyakarta: penerbit Jendela, 2002
Russell Bertrand. Sejarah filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002
Achmadi Asmoro. Filsafat umum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2003
Hadiwijono Harun “sari sejarah filsafat barat” Yogyakarta, KANISIUS,1980
Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Bertens, K. 1997. Sejarah Filsafat Yunani.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Referensi: