Saturday, December 31, 2016

Hati-Hati dalam Memilih Teman



Ali Bin Abi Tholib ditanya: “Berapa banyak teman dekat tuan?” Ali menjawab: “Saya tidak mengetahuinya sekarang karena saat ini dunia sedang berada di pihak saya. Semua orang (ingin menjadi) teman dekat saya. Saya baru tahu itu besok nanti pada saat dunia meninggalkan saya. Sebab sebaik-baiknya teman adalah orang yang mendekat kepada saya pada saat dunia meninggalkan saya (tidak kaya dan tidak berkuasa)”.
Manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia butuh teman untuk menjalani dan memenuhi ragam kebutuhan hidup. Bahkan, teman adalah personifikasi diri. Menurut para ahli, manusia selalu memilih teman yang mirip dengannya dalam hal hobi, kecenderungan, pandangan, pemikiran, juga nasib. Seorang Muslim tidak dapat semaunya memilih teman, meskipun setiap Muslim diharuskan berteman dengan semua orang karena Islam membenci permusuhan.
Sebagai pedoman hidup, syariat Islam memberi batasan-batasan yang jelas dalam soal pertemanan ini. Salah satu alasannya, teman memiliki pengaruh yang besar sekali. Pentingnya memilih teman tersirat dalam sebuah sabda Rasulullah Saw: “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Kita bisa menilai seseorang dengan melihat dengan siapa saja orang itu berteman. Pasalnya, seseorang akan berbicara dan berperilaku seperti kebiasaan temannya. Rasulullah dengan hadits tersebut mengingatkan agar kita cermat dalam memilih teman. Kita harus kenali kualitas beragama dan akhlak kawan kita. Bila ia seorang yang shalih, ia boleh kita temani. Sebaliknya, bila ia seorang yang buruk akhlaknya dan suka melanggar ajaran agama, pelaku dosa-dosa besar dan ahli maksiat, lebih-lebih berteman dengan orang-orang kafir dan munafik, kita harus menjauhinya. Paparan berikut ini menggambarkan kriteria pertemanan dan teman yang baik dalam perspektif Islam:
1.      ORANG BERIMAN
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasullulah Saw bersabda: ”Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang mukmin yang bertaqwa”. Dalam hadits lain ditegaskan, “Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Ahmad).
Kriteria utama dan pertama orang yang harus dijadikan teman adalah orang beriman dan orang-orang saleh. Selain karena sesama mukmin memang bersaudara, juga karena orang beriman dengan benar melahirkan dalam dirinya perilaku yang baik (akhlaqul karimah) dan kita akan termotivasi melakukan hal yang sama. Beberapa ulama generasi salaf menyarankan kepada kita untuk: ”Bersahabatlah dengan orang-orang yang keadaannya bisa menunjukkan kamu ke jalan Allah”. “Seorang mukmin itu tidak punya siasat untuk kejahatan dan selalu (berakhlak) mulia, sedang orang yang fajir (tukang maksiat) adalah orang yang bersiasat untuk kejahatan dan buruk akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).
Orang kafir yang tidak memusuhi Islam atau mau hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam (kafir dzimmy) layak juga menjadi teman. Sedangkan kafir yang memusuhi Islam harus diperangi (kafir harby).
2.      TEMAN DI JALAN ALLAH
Dalam perspektif Islam, pertemanan yang baik adalah pertemanan yang dijalin di jalan Allah dan karena Allah. Bukan pertemanan yang semata-mata dijalin untuk mendapatkan manfaat dunia, materi, jabatan, atau sejenisnya. Pertemanan yang dijalin untuk saling mendapatkan keuntungan duniawi sifatnya sangat sementara. Bila keuntungan tersebut telah sirna, maka pertemanan pun putus.
Pertemanan yang dijalin karena Allah adalah pertemanan yang dijalin untuk mendapatkan ridha Allah: teman berdakwah dan berjihad, saling mengingatkan soal kebenaran dan kesabaran, teman beramal saleh, saling bantu demi ketaatan pada Allah, dan kebaikan lainnya. Orang yang semacam inilah yang kelak pada Hari Kiamat akan mendapat janji Allah. “Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali perlindungan-Ku.” (HR. Muslim).
Pertemanan yang dijalin karena Allah akan melahirkan rasa saling mengasihi dan membantu, bahkan persaudaraan itu tetap akan berlanjut hingga di negeri Akhirat. “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67) CINTA KARENA ALLAH Antar teman harus saling mencintai karena Allah Swt. Dari Mu’adz bin Jabal berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Wajib untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku dan yang saling berkunjung karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad). “Dahulu ada seorang laki-laki yang berkunjung kepada saudara (temannya) di desa lain. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Ke mana anda hendak pergi? Saya akan mengunjungi teman saya di desa ini’, jawabnya, ‘Adakah suatu kenikmatan yang anda harap darinya?’ ‘Tidak ada, selain bahwa saya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla’, jawabnya. Maka orang yang bertanya ini mengaku, “Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu karena Dia.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
3.      CERIA SAAT BERTEMU
Teman yang baik adalah teman yang membahagiakan dan memberi semangat. Paling tidak, saat bertemu dengan teman hendaknya selalu dalam keadaan wajah berseri-seri dan menyungging senyum. “Jangan sepelekan kebaikan sekecil apa pun, meski hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).
4.      JABAT TANGAN & HADIAH
Termasuk yang membantu langgengnya cinta dan kasih sayang antar teman adalah saling jabat tangan ketika bertemu dan berpisah serta saling memberi hadiah. “Saling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan hilang kedengkian. Saling memberi hadiah lah kalian, niscaya kalian saling mencintai dan hilang (dari kalian) kebencian.” (HR. Imam Malik).
5.      SELALU SIAP MENOLONG
Dalam Islam, prinsip menolong teman adalah bukan berdasar permintaan atau keinginan teman. Prinsip menolong teman adalah keinginan untuk menunjukkan dan memberi kebaikan, menjelaskan kebenaran, termasuk di dalamnya adalah amar ma’ruf nahi mungkar, meskipun bertentangan dengan keinginan teman. Teman yang baik selalu mengingatkan agar temannya tidak terjerumus pada perbuatan dosa atau hal yang merugikan dirinya dan orang lain. Allah Swt memerintahkan kita untuk saling tolong dalam kebaikan dan takwa (ta’awanu ‘alal birri wat-taqwa), bukan saling dukung dalam perbuatan dosa dan permusuhan (wala ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan).
6.      BERBAIK SANGKA
Termasuk bumbu pertemanan adalah berbaik sangka kepada sesama teman (husnuzhan), yaitu selalu berfikir positif (positive thinking) dan memaknai setiap sikap dan ucapan orang lain dengan persepsi dan gambaran yang baik, tidak ditafsirkan negatif. “Jauhilah oleh kalian berburuk sangka, karena buruk sangka adalah pembicaraan yang paling dusta” (HR.Bukhari dan Muslim). Termasuk berburuk sangka di sini adalah dugaan yang tanpa dasar.
7.      MENJAGA RAHASIA
Rahasia seseorang biasanya disampaikan kepada teman terdekat atau yang dipercayainya. Anas bin Malik pernah diberi tahu tentang suatu rahasia oleh Nabi Saw. Anas berkata, ” Nabi Saw merahasiakan kepadaku suatu rahasia. Saya tidak menceritakan tentang rahasia itu kepada seorang pun setelah beliau (wafat). Ummu Sulaim pernah menanyakannya, tetapi aku tidak memberitahukannya” (HR. Al-Bukhari). Teman sejati adalah teman yang bisa menjaga rahasia temannya. Orang yang membeberkan rahasia temannya adalah seorang pengkhianat terhadap amanat. Berkhianat terhadap amanat adalah termasuk salah satu sifat orang munafik.
8.      JENIS-JENIS TEMAN
Menurut Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam bukunya, Syarah Hilyah Thalibil Ilmi, menjelaskan tentang tiga macam teman: Pertama, teman manfaat, yaitu orang yang berteman untuk mendapatkan manfaat berupa harta, kedudukan, atau lainnya. “Jika tidak ada manfaat yang didapatkan, darimu jadilah ia musuhmu, dia tidak mengenalmu dan kamu tidak mengenalnya,” katanya. Kedua, teman kenikmatan, berteman hanya untuk bersenang-senang dengan dalam berkumpul dan berdagang, tetapi dia tidak memberi manfaat, hanya buang waktu. “Tipe ini juga kamu harus berhati-hati darinya karena dia akan menyia-nyiakan waktumu,” katanya. Ketiga, teman keutamaan, yang membawa pada kebaikan dan melarang keburukan, membuka pintu-pintu kebaikan dan menuntut teman kepadanya. “Jika kamu tergelincir dia akan melarangmu dengan cara tidak mempermalukanmu, ini baru teman keutamaan,” jelasnya. Syekh Abdul Aziz As-Salman, sebagaimana dikutip Majalah Qiblati, juga menyebutkan tiga jenis teman lainnya: ”Pertama seperti makanan, sesuatu yang selalu dibutuhkan tidak boleh tidak; kedua seperti obat, dibutuhkan saat sakit saja; dan ketiga seperti penyakit, sama sekali tidak dibutuhkan.”
9.      TEMAN YANG HARUS DIHINDARI
Hindari teman yang dimurkai oleh Allah, seperti pelaku maksiat dan tukang bohong. “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka adzab yang keras. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Mujaadilah [58]: 14-15). “Barangsiapa yang mengambil setan menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya” (QS. An Nisaa’ [4]: 38). Seseorang bisa tergelincir berteman dengan setan dalam arti sesungguhnya. Dengan sadar ia menjadikan setan sebagai pelindung, penolong, pendamping, serta pemberi kekuatan, sehingga dipandang hebat oleh orang lain. Berteman dengan setan bisa pula dalam bentuk lain, yaitu bergaul dengan orang-orang yang gemar memperturutkan hawa nafsu, rajin bermaksiat, serta lalai dari mengingat Allah. Akibatnya, mereka sangat jauh dari pertolongan Allah. Ibnu Atha’illah dalam kitab Hikam berkata: “Berkawan seorang bodoh yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, jauh lebih baik daripada dengan berkawan seorang ‘alim yang selalu memperturutkan hawa nafsunya.” Orang berilmu tapi memperturutkan hawa nafsu, biasanya akan membenarkan kemaksiatan yang dilakukannya dengan dalil-dalil Al-quran dan hadis. Dikhawatirkan, lambat laun kita pun akan membenarkan kemaksiatan tersebut hanya karena bersandar pada dalil-dalil.
10.  KUALITAS TEMAN
Idealnya kita berteman dengan orang-orang yang kualitasnya jauh lebih baik dari diri kita, sehingga kita tidak merasa paling pintar dan paling saleh. Justeru kita akan merasa paling kurang. Saat berteman dengan orang-orang yang berkualitas, biasanya kita akan terangsang dan termotivasi untuk belajar dan mengejar ketertinggalan. Karena itu ada yang mengatakan, kalau kita ingin menjadi ulama maka bergaulah dengan ulama; ingin menjadi pedagang, maka bergaullah dengan para pedagang; ingin menjadi seniman, maka bergaulah dengan seniman. Kualitas utama teman adalah iman dan takwanya. Abu Daud dan Turmudzi memperjelas kriteria seorang sahabat seperti diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasullulah Saw bersabda : ”Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang mukmin yang bertaqwa”. “Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (saleh) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi, mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap” (HR. Bukhari dan Muslim).
11.  TEMAN PALSU
Waspadai teman palsu, yakni teman yang sesungguhnya tidak layak dijadikan teman. Setidaknya ada empat kriteria empat palsu: Pertama, mereka yang mengajak berkawan untuk tujuan menipu. Mereka hanya memikirkan tentang apa yang akan mereka peroleh; memberi sedikit dan berpikir bagaimana untuk memperoleh banyak; jika mereka berada di dalam bahaya, mereka akan melakukan hal-hal yang dapat memperkokoh persahabatan; dan bergaul dengan kita hanya karena mereka tahu bahwa pergaulan itu memberikan keuntungan kepada mereka. Kedua, mereka yang hanya manis di mulut saja. Mereka selalu membicarakan hal-hal yang telah lampau dan tidak berguna; cenderung membicarakan hal-hal yang belum terjadi; dan membantu mengerjakan hal-hal yang tidak berguna. Jika iminta untuk membantu, mereka selalu mengatakan tidak dapat membantu (dengan bermacam-macam alasan untuk menghindari). Ketiga, mereka yang memuji-muji dan membujuk (penjilat). Jika kita berbuat jahat, mereka akan setuju dan membenarkannya; jika kita tidak berbuat baik, mereka akan setuju dan membenarkannya; di hadapan kita, mereka akan memuji-muji kita, namun di belakang kita, mereka akan mencel kita. Keempat, mereka yang mendorong seseorang untuk menuju ke jalan yang membawa pada kerugian dan kehancuran atau kemaksiatan.
12.  TEMAN SEJATI
Lazim dikemukakan, teman sejati adalah teman yang mendasarkan pertemanan semata-mata karena Allah. Ia berusaha membantu di dalam berbagai cara, mempunyai rasa simpatik baik di dalam suka maupun duka, serta memperkenalkan kita pada hal-hal yang berguna. Beberapa ulama generasi Salaf menyarankan: ”Bersahabatlah dengan orang-orang yang keadaannya bisa menunjukkan kamu ke jalan Allah”. Ali bin Abi Thalib berkata: “Temanmu yang sebenarnya adalah orang yang ada bersamamu dan orang yang menyusahkan dirinya agar ia bermanfaat bagimu (siap berkorban demi teman). Di waktu membimbangkan, ia berkata terus terang kepadamu. Ia pecah berantakan agar kamu berkumpul selalu…”.




Filosofi Mata



"Mata adalah jendela jiwa" Mata adalah sebuah indera anugrah dari sang pencipta tempat tercurahnya pikiran dan perasaan. Mata dapat Melirik, Berkedip, Memandang, dan bahkan menetetesan air mata. Kamu memiliki sepasang dua mata indah yang bekerja saling mengisi dan menunjang satu sama lain yang selalu setia menemani hari-harimu.
Ketika pikiran, perasaan, dan tubuhmu menginginkannya untuk terbuka, maka mata pun akan tetap terbuka, dan mata akan tertutup mengikuti lelahnya pikiran, perasaan, dan tubuhmu. Indera Terkuatmu adalah Mata, dan kamu adalah seorang yang memiliki kekuatan meluluhlantakkan pikiran dan perasaan seseorang.
Fokus, Setia, dan jiwa bertanggung Jawab adalah tiga perpaduan yang melambangkan kekuatanmu sesungguhnya... Tatap dan Pandanglah dunia dengan kekuatan yang terpancar dari matamu.
Melihat ke atas, adalah semangat untuk maju. Melihat ke bawah, bersyukur atas semua yg ada. Melihat ke samping, semangat kebersamaan. Melihat ke dalam, untuk introspeksi. Melihat ke luar, kesadaran lingkungan dan adaptasi. Melihat ke belakang, sebagai pengalaman berharga. Melihat ke depan, untuk menjadi yang lebih baik.



Filosofi Gerakan Sholat



1.      Niat
Niat yang berarti mempersiapkan hati untuk berkonsentrasi.
2.      Takbir al-Ihram
Adalah sebuah pengakuan akan kebesaran Allah. Menggambarkan pengumuman ke”sholat”an kita. Visualisasinya seperti ketika ada orang lemah dianiaya dengan cara disiksa atau dipukuli oleh orang kuat maka si lemah mengangkat tangannya menutupi kepala dengan kedua tangannya sambil berkata ”ampun..ampun...ampuun. Ini menunjukkan bahwa : Pertama, mengangkat tangan ketika takbiratul ihram adalah merupakan simbol atau isyarat untuk memohon ampun dari segala dosa dan kesalahan manusia yang lemah kepada Allah Swt yang Maha Besar sambil membaca doa iftitah, terus fatihah dan dilanjutkan dengan membaca salah satu surat dalam al-qur’an yang dianggap mudah. Kedua, mengangkat tangan juga merupakan kunci pembuka hubungan manusia dengan Allah sebagai Khaliq (Tawajjuh) dan menutup hubungan manusia dengan sesama manusia (Mu‟amalah=sosial), terbukti bahwa setelah takbiratulihram dan kedua tangan disimpan di atas dada, maka orang yang sedang sholat tidak boleh berkata-kata, tidak boleh meludah, tidak boleh tengok kanan atau tengok kiri dan lain sebagainya. Inilah substansi takbir al ihram (takbir yang mengharamkan) artinya setelah takbir ihram tersebut kita diharamkan berbicara, makan, minum dan lain sebagainya karena akan membatalkan sholat itu sendiri.
3.      Meletakkan kedua tangan di atas dada dalam keadaan berdiri
Tangan kiri dipegang oleh tangan kanan. Gerakan ini merupakan isyarat atau simbol dari : Pertama, bahwa posisi kiri merupakan simbol dari kejelekan atau kejahatan (Ahli syimal=Neraka). Sedangkan posisi kanan merupakan simbol dari kebaikan (Ahli Yamin=Syurga). Keadaan seperti ini mengandung makna bahwa kuasailah potensi kejahatan (Al-Fujur) dalam diri kita oleh potensi kebaikan atau ketaqwaan (Al-Taqwa) sehingga menjadi manusia yang tidak lupa kepada Allah SWT.dan menjadi manusia yang berbahagia dunia dan akhirat (QS. Al-Syamsyi : 8-10). Kedua, Posisi berdiri mengandung makna perjalanan hidup (Subul Al-hayat) manusia sejak lahir sampai meninggal dunia. Oleh karena itu hiduplah di jalan kebenaran secara konsekuen dan istiqomah dan jangan hidup di jalan kejahatan atau kesesatan yang hina.(QS. al- Mulk : 2).
4.      Pandangan selalu menunduk ke tempat sujud
Gerakan tersebut mengandung makna bahwa dalam perjalanan hidup di dunia manusia harus senantiasa ingat akan tanah tempat sujud artinya kematian, sebab kematian merupakan nasihat yang paling efektif bagi manusia yang berakal. Dunia merupakan satu-satunya tempat untuk menebar benih kebaikan. Dan dunia merupakan jembatan untuk menuju akhirat kelak (al-Dunya Majrah al-Akhirah). Walaupun kematian sesuatu yang sangat dibenci dan tidak diinginkan kedatangannya oleh manusia tetapi kematian tetap akan menemuinya jika sudah tiba saatnya.(QS. al-Jum’ah : 8). Kematian datangnya tiba-tiba dan tidak pernah bisa dihalangi dengan apapun juga. Oleh karena itu management kematian mesti diperhitungkan oleh orang yang beriman dan bertaqwa.
Orang yang bertaqwa akan menemui kematian dalam keadaan baik (Toyyibiin) sehingga para malaikat pun berkata : silahkan masuk ke dalam syurga dengan sejahtera. Selain itu orang yang jiwanya tenang (Mutmainnah) rohnya akan dipanggil keluar dari jasadnya dengan santun dan penuh kasih sayang serta akan dikumpulkan di syurga dengan roh- roh orang yang sholeh.(QS. al- Fajr : 27-30). Kondisi demikian dilakukan pada posisi berdiri. Berdiri bermakna bahwa otak yang merepresentasikan ego berada di atas hati yang merepresentasikan nurani. Ini adalah fase dimana ego lebih mengendalikan nurani. Contoh hidup manusia pada fase ini adalah fase anak-anak. Diberi gambaran bahwa betapa sulitnya anak kecil berbagi pada sesamanya adalah gambaran betapa anak kecil masih didominasi kesadaran ego dibandingkan kesadaran nurani. Sering ditemui anak kecil yang tidak mau berbagi permen yang dimilikinya pada adiknya sekalipun. Karena takut jatahnya berkurang. Ini adalah fase dimana ego masih berada di atas nurani.
5.      Gerakan berikutnya adalah ruku’
Adalah gerakan yang menggambarkan bahwa ego dan nurani berada dalam posisi yang sama, sejajar. Fase ini menggambarkan fase kehidupan manusia sebagai seorang remaja. Terkadang antara nurani dan egonya bertentangan. Pernahkah anda merasakan betapa enggannya kita berbagi tempat duduk di bis kota pada seorang ibu tua? Atau enggannya berbagi uang jajan kepada seorang peminta-minta di lampu merah? Dalam hati ada pertentangan. Jika diberi uang kita habis, kalau tidak diberi kok kasihan. Inilah fase yang digambarkan oleh gerakan ruku’. Seringkali pertentangan itu kemudian dimenangkan oleh ego kita. Ketidakstabilan fase ini ditegaskan lagi adanya gerakan berdiri sebelum sujud. Ini menandakan betapa seringkali pertentangan batin ini dimenangkan oleh ego.
6.      Gerakan sujud
Adalah gerakan yang menggambarkan bahwa kini ego berada di bawah nurani. Adalah penggambaran fase kehidupan manusia berada di fase pencerahan. Fase kedewasaan. Cerita hikayat tentang Syaidina Ali bin Abi Thalib. Suatu hari beliau harus membelanjakan uang sebesar 6 dirham ke pasar untuk membeli roti bagi anak-anak beliau. Namun ditengah jalan, beliau bertemu dengan seorang fakir yang sungguh perlu dibantu. Jika beliau masih berada di fase ruku’, tentu bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan beliau. Namun beliau memberikan semua uang itu kepada fakir tersebut dengan ikhlas. “Semoga Allah memberikan balasan setimpal kepadamu.” Demikian doa dari sang fakir tersebut. Saat beliau dalam perjalanan pulang, beliau bertemu dengan seorang sahabat yang sedang berlebihan makanan. Dan beliau kemudian dibagi yang jumlahnya lebih dari jumlah yang bisa dibeli dengan uang 6 dirham. Itulah gambaran fase sujud dari seorang Ali bin Abi Thalib.
7.      Gerakan duduk
Adalah penggambaran dari kepasrahan. Pasrah dan tawakal atas semua keputusan Allah akan dirinya. Betapa bahwa manusia itu sudah dijamin semua kebutuhan hidupnya di dunia.
8.      Dan ucapan salam ke kanan dan ke kiri
Adalah penggambaran betapa kita kelak akan meninggalkan dunia dengan berpamitan kepada orang-orang terdekat kita. Baik yang di kanan, maupun kiri. Dan memberikan doa, semoga engkau diberi keselamatan. Selain itu ucapan salam ini merupakan simbol kembalinya dibuka hubungan manusia dengan manusia yang telah ditutup dengan gerakan takbiratulihram tadi terbukti setelah kita mengucapkan salam kita diperbolehkan berkomunikasi kembali dengan sesama manusia. Ttetapi tidak menutup hubungan manusia dengan Allah Swt sebab seluruh gerakan dalam sholat tadi setelah diketahui filosofinya harus diwujudkan dalam kontek kehidupan sosial (Innaa sholata tanha ‟anil fakhsyai wal munkari).

Dari pembahasan diatas, penulis tarik benang merahnya. Maka tujuan sholat adalah:
  1. Supaya manusia menyembah, tunduk dan patuh hanya kepada Allah Swt saja. (Laa Ilaaha illa anaa fa‟budnii = Toha : 14)
  2. Supaya manusia senantiasa ingat kepada Allah Swt yang memberi hidup dan kehidupan. (Wa aqiimishsholata lidzikri = Toha : 14).
  3. Supaya manusia terhindar dari perbuatan keji dan munkar. (Innashsholata tanha anilfakhsya wal munkar = Al-ankabut : 15).
  4. Supaya agama dan kalimah- kalimah Allah tetap tegak dan hidup di muka bumi ini. (Ashsholatu ”Imaduddin = al- Hadits).
  5. Pembeda antara seorang Muslim dan seorang kafir (Alfarqu bainal muslimi wal kaafiri tarkushsholati = al-Hadits, Man taroqashsholata zihaaroon faqod kafaro = al-Hadits)

Oleh karena itu, kita harus menjadikan sholat dan doa sebagai senjata. Ada sebuah kepasrahan yang kurang bisa kita maknai pada sholat kita. Dalam ibadah kita. Dan dalam keseharian kita. Terkadang sholat kita tidak berdasarkan kesadaran dan kepasrahan kepada Allah Swt. akan tetapi terkadang seolah ada keterpaksaan dalam melaksanakan sholat, bahkan yang lebih ironisnya seolah ada keterpaksaan oleh situasi dan kondisi yang yang dianggap menekannya, contoh bila di rumah seolah ada keterpaksaan dari orang tua nya (bisa kita rasakan sewaktu kita kecil), bila di kantor seolah- olah ada keterpaksaan dari pimpinannya. Padahal justru sholat merupakan kebutuhan pokok bagi kita dan kemestian bagi kita, tidak lagi merupakan kewajiban yang terkadang dibayangi oleh keterpaksaan. Pasrah pada keputusan-Nya. Dan percaya bahwa Ia tidak akan memberikan kejadian yang hanya akan menyulitkan kita. Karena hanya Dia yang paling mengerti kita sebagai pencipta kita. Dan hanya Dia yang sudah menyiapkan penyelesaian terbaik untuk kita. Kita pun berpasrah diri pada-Mu. Hanya kepadamu kami mohon pertolongan. Hanya kepadamu kami bermunajat. Dan hanya kepadamu kami minta perlindungan.
Ya Allah. Kami mengadu kepada-Mu. Kami bersujud di hadap-Mu. Dengan segala kesalahan dan dosa kami. Kami mohon ampun kepadaMu